Karya ke - 66
“Syair di Ujung Hari” adalah perenungan tentang ambisi yang terlalu riuh, tentang langkah yang sibuk mengejar dunia hingga lupa arah pulang.
Di ujung hari, saat malam menjadi cermin, lagu ini mengajak kembali menatap diri —
menyadari kelalaian, merapikan retak, dan mengingat bahwa ada Yang Maha Menghitung di atas segala hitungan manusia.
Verse 1
Berapa fajar kulepas tanpa nama
Mata terbuka, jiwa masih terpejam
Kupahat ambisi di dinding hari
Namun arah kompas retak dalam diam
Langkahku riuh di pasar dunia
Menawar mimpi sampai lupa pulang
Kupeluk bayang-bayang pujian
Sementara cahaya kutinggal di belakang
Chorus
Berapa banyak yang terlalaikan
Hingga hati menjadi asing
Aku menghitung segala kehilangan
Namun lupa pada Yang Maha Menghitung
Verse 2
Jam berputar seperti saksi tua
Mencatat jeda yang tak kusadari
Doa-doa gugur sebelum sampai
Karena lisanku sibuk memuji diri
Kukejar langit dengan tangan kosong
Menanam bangga di ladang debu
Sementara sunyi berbisik pelan
“Yang kau cari, sejak dulu mencarimu”
Chorus
Berapa banyak yang terlalaikan
Hingga hati menjadi asing
Aku menghitung segala kehilangan
Namun lupa pada Yang Maha Menghitung
Bridge
Jika malam adalah cermin
Biarlah gelap memantulkan wajahku
Agar retak ini bersujud
Dan debu di dahi kembali menjadi rindu
Chorus
Berapa banyak yang terlalaikan
Hingga hati menjadi asing
Aku menghitung segala kehilangan
Namun lupa pada Yang Maha Menghitung
Hak cipta ©2026 Indra Yansyah
Comments
Post a Comment